Steven R Covey, penulis buku best seller “7 Habits” menyarankan sebelum menghadapi dan menyelesaikan masalah lebih arif jika kita bisa memahami agar permasalahannya terlebih dahulu. Seringkali kita memutuskan sesuatu yang tidak sesuai dengan konteks permasalahannya sehingga kata Steven “Bagaimana kita memandang permasalahan itulah sesuangguhnya permasalahannya”. Dalam bahasa yang agak berbau filsafat, para psikolog sosial menyebutkan bahwa sesungguhnya realitas itu tiada, yang ada hanya sesuatu yang kita persepsikan.
Atas dasar itulah seringkali kita melihat realitas di masyarakat yang satu berbeda dengan masyarakat yang lain. Di desa yang jauh dari akses teknologi informasi sesuatu hal bisa menjadi masalah sosial, namun tidak dengan masyarakat perkotaan. Semuanya terpulang pada persepsi masing-masing individu di masyarakat. Sebab itu persepsi disadari atau tidak sangat menentukan bagaimana sikap dan perilaku kita kepada orang lain atau kepada lingkungan dimana kita berada. Lalu bagaimana sebenarnya pembentukan persepsi itu sendiri?
Definisi
Drever dalam Sasanti (2003) mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan menggunakan panca indera. Kesan yang diterima individu sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu. Sabri (1993) memandang persepsi sebagai aktivitas yang memungkinkan manusia mengendalikan rangsangan-rangsangan yang sampai kepadanya melalui alat inderanya, menjadikannya kemampuan itulah dimungkinkan individu mengenali milleu (lingkungan pergaulan) hidupnya
Persepsi sosial mengandung unsur subyektif. Persepsi sosial menyangkut atau berhubungan dengan adanya rangsangan-rangsangan sosial. Rangsangan-rangsangan sosial ini dapat mencakup banyak hal, dapat terdiri dari (a) orang atau orang-orang berikut ciri-ciri, kualitas, sikap dan perilakunya, (b) persitiwa-peristiwa sosial dalam pengertian peristiwa-peristiwa yang melibatkan orang-orang, secara langsung maupun tidak langsung, norma-norma, dan lain-lain (Istiqomah, dkk, 1988)
Pembentukan Persepsi
Davis O Sears (1994) mengoperasionalkan bagaimana kita membuat kesan pertama, prasangka apa yang mempengaruhi mereka, jenis informasi apa yang kita pakai untuk sampai pada kesan tersebut, dan bagaimana akuratnya kesan itu.
Dalam melakukan penilaian terhadap orang lain, menurut Brehm ada tiga pentunjuk tidak langsung yang sering kita gunakan yakni pribadi, situasi dan perilaku. Dengan petunjuk tersebut kita bisa melakukan penilaian terhadap orang lain dengan cepat hanya ketika melihat fisiknya. Dalam hal ini selain melihat fisik seseorang penilaian atau persepsi juga dapat terbentuk dengan cepat adalah ketika kita melihat sisi demografi yang ada pada diri orang lain seperti jenis kelamin, ras, etnik dan lain sebagainya.
Apa yang dipersepsikan seseorang terhadap perilaku orang lain antara manusia yang satu dengan lainnya sangatlah bersifat subyektif. Hasil penilaian yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya terhadap obyek yang sama sangat ditentukan oleh latar belakang kehidupan pribadi sang perseptor. Jika sang perseptor memiliki latar belakang sosial dan pengalaman dalam bertinteraksi sosial yang memadai, memiliki ilmu pengetahuan, sikap yang baik, pengharapan dan selalu berfikir positif tentunya manusia jenis ini akan memiliki kemampuan intelegensi dan kemampuan menghayati stimulasi yang diterinya dari obyek yang diterima dengan bijak ketimbang manusia yang hanya mengamati sang obyek dengan kacamata prasangka.
Dalam hal ini Istiqomah (1988) menyebutkan bahwa persepsi sosial dibangun atas tiga hal yang saling mempengaruhi yakni 1) variabel obyek-stimulus, 2) variabel latar atau suasana pengiring keberadaan obyek-stimulus, dan 3) variabel diri preseptor.. Dalam bahasa yang berbeda Orgod memerinci tentang konsep diferensial semantik yang menjelaskan tiga dimensi dasar yang terkait dengan persepsi, yakni evaluasi (baik-buruk), potensi (kuat-lemah), dan aktivitas (aktif- pasif). Menurutnya evaluasi merupakan dimensi utama yang mendasari persepsi, disamping potensi dan aktivitas (David O Sears, et. al, 1994).
Dalam sebuah perkuliahan saya membagikan gambar kepada masing-masing mahasiswa dan meminta mereka untuk menuliskan gambar apa yang mereka lihat. Ketika gambar-gambar tersebut saya minta kembali, dengan tersenyum saya mengamati tulisan tangan yang memberi penilaian yang berbeda-beda semua mahasiswa terhadap gambar yang sama. Inilah yang disebut persepsi. Louisser dan Poulos (1997) dalam Mugniesyah (2005) mengemukakan lima tipe jenis/bias yang mempengaruhi persepsi, dan dua diantaranya adalah stereotip dan harapan. Stereotip diartikan sebagai suatu proses penyederhanaan dan generalisasi perilaku individu-individu dari anggota kelompok tertentu (etnis, agama, suku bangsa, jenis kelamin, gender, pekerjaan, dan lain sebagainya). Stereotip digunakan pada saat kita sedang menilai seseorang, juga digunakan oleh individu dalam berkomunikasi dengan maksud untuk humor, perlakuan diskriminatif bahkan pelecehan, yang seluruhnya akan menghasilkan pengaruh negatif terhadap hubungan antar manusia (komunikasi interpersonal).
Faktor-faktor internal bukan saja mempengaruhi atensi sebagai salah satu aspek persepsi, tetapi juga mempengaruhi persepsi diri seseorang secara keseluruhan, terutama penafsiran atas suatu rangsangan. Dalam hal ini agama, ideologi, tingkat intelektual, tingkat ekonomi, pekerjaan dan cita rasa sebagai faktor-faktor internal yang jelas mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu realitas. Jika persepsi ini memegang peranan penting sebagai peletak dasar argumen atas tingkah laki kita terhadap realitas maka mulai dari sekarang untuk menciptakan kehidupan yang damai, apa tidak bijak jika kita lebih baik memahami orang lain daripada berharap agar orang lain memahami kita.
Dalam sebuah guyonan saya kerap menyampaikan “hanya dua orang yang mudah tersinggung yakni orang miskin dan orang bodoh”. Guyonan ini bagi saya penuh makna bahwa jangan sampai karena rendahnya pengetahuan kita akan satu masalah atau seseorang atau lingkungan membuat kita tersinggung dan salah paham. Sebab ketersinggungan dan salah paham kerap tercipta dari pikiran prasangka yang tentu berbuah perilaku yang negatif. Mengakhiri tulisan ini jika diminta memilih sebenarnya lebih baik “salah paham” daripada “pahamnya yang salah”.









http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22
http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22/BAGAIMANA_MENJADI_WARTAWAN_PROFESIONAL
http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22/BAGAIMANA_MENJADI_WARTAWAN_PROFESIONAL
http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22/BAGAIMANA_MENJADI_WARTAWAN_PROFESIONAL
Pengertian ”kebebasan pers” tentu saja bukanlah bebas sebebas-bebasnya, menulis semau gue, tak peduli pada aturan apapun, melainkan bebas dalam mengakses informasi yang dibutuhkan oleh publik. Sebab, pers sebagai ”pilar ke empat” dalam sistem demokrasi -- yang adalah juga ”kepanjangan tangan” dari aspirasi publik -- harus bebas dalam mengakses informasi publik. Mengapa? Sebab, kebebasan itu merupakan salah satu dari hak-hak sipil (hak untuk bebas berpikir, berpendapat, berbicara, menulis, berserikat, beragama, mencari nafkah) yang semuanya merupakan hak-hak manusia yang paling asasi.
http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22/BAGAIMANA_MENJADI_WARTAWAN_PROFESIONAL
http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22/BAGAIMANA_MENJADI_WARTAWAN_PROFESIONAL
http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22/BAGAIMANA_MENJADI_WARTAWAN_PROFESIONAL
Tak punya kaki lengkap bukan menjadi halangan bagi Rohan untuk berprestasi. Atlet gulat berkulit hitam ini membuktikan, keyakinan kuatnya mampu mengatasi kelemahan dirinya. Bahkan, tak jarang ia mengalahkan gulat orang yang bertubuh lengkap. Sungguh luar biasa!!!
Tonton videonya di alamat url http://www.andriewongso.com/artikel/aw_inspirational_video/1969/Kekuatan_Keyakinan/
AWALI setiap pagimu dengan menulis, itu akan membuatmu jadi seorang penulis. Begitulah ungkapan dari Gerald Brenan.
Baca selengkapnya di alamat url http://writingsdy.wordpress.com/2007/05/13/menulis-menulis-menulis/
1. waktu yang menyegarkan; adalah waktu-waktu segar adalah sehabis shalat subuh. Anda cukup meluangkan waktu 15-30 menit, di waktu inilah kita bisa menulis lebih cepat dari waktu yang lain.
Cobalah untuk memakai waktu ini sebagai waktu pamungkas untuk berlatih menulis. Selain subuh anda bisa cobah waktu sehabis tidur siang, atau sehabis shalat isya. Atau waktu-waktu kesukaan anda.
2. tempat favorit; pilihlah tempat yang bisa membuat ide kepenulisan anda mengalir lebih deras.
3. segarkan pikiran; Menulis memerlukan pikiran yang segar, sehingga dapat berfikir dan mengeluarkan ide-ide segar.
Jika anda lagi gelisah, cobalah untuk mendengarkan musik-musik yang menenangkan. Setelah pikiran segar tenaga baru akan datang untuk memulai menulis.
4. buat pengingat; Sebuah alarm, atau sebuah tulisan yang tertempel di dinding untuk menulis. Ataukan meminta teman untuk mengingatkan menulis. Dan banyak lainnya.
Baca selengkapnya di http://menulis-t-aft.blogspot.com/2009/08/tips-dasar-untuk-memulai-menulis.html
Kumpulan Tips, Motivasi, Cara dan Bimbangan Belajar Menulis.
1. Mempelajari misi majalah;
2. Menyiapkan tulisan dengan ide yang berbeda-beda;
3. Tempat menulis;
Selengkapnya baca http://www.menjadicerdas.co.cc/index.php?option=com_content&task=view&id=7&Itemid=2
Langkah-Langkah untuk Membentuk Kelompok Menulis;
1. Perencanaan
2. Iklan
3. Wawancara
4. Pertemuan pertama
5. Mengelola Kelompok
6. Terakhir, pastikan Anda tetap mempertahankan pertemuan Anda terus fokus pada hal yang penting: kelompok.
SEKARANG INI JUGA
Ada aplikasi, CreaWriter namanya.
http://www.republika.co.id/berita/trendtek/aplikasi/10/03/22/107503-sulit-memulai-menulis-coba-creawriter