Sabtu, 07 Mei 2011

PEMBENTUKAN PERSEPSI

Steven R Covey, penulis buku best seller “7 Habits” menyarankan sebelum menghadapi dan menyelesaikan masalah lebih arif jika kita bisa memahami agar permasalahannya terlebih dahulu. Seringkali kita memutuskan sesuatu yang tidak sesuai dengan konteks permasalahannya sehingga kata Steven “Bagaimana kita memandang permasalahan itulah sesuangguhnya permasalahannya”. Dalam bahasa yang agak berbau filsafat, para psikolog sosial menyebutkan bahwa sesungguhnya realitas itu tiada, yang ada hanya sesuatu yang kita persepsikan.

Atas dasar itulah seringkali kita melihat realitas di masyarakat yang satu berbeda dengan masyarakat yang lain. Di desa yang jauh dari akses teknologi informasi sesuatu hal bisa menjadi masalah sosial, namun tidak dengan masyarakat perkotaan. Semuanya terpulang pada persepsi masing-masing individu di masyarakat. Sebab itu persepsi disadari atau tidak sangat menentukan bagaimana sikap dan perilaku kita kepada orang lain atau kepada lingkungan dimana kita berada. Lalu bagaimana sebenarnya pembentukan persepsi itu sendiri?

Definisi

Drever dalam Sasanti (2003) mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan menggunakan panca indera. Kesan yang diterima individu sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu. Sabri (1993) memandang persepsi sebagai aktivitas yang memungkinkan manusia mengendalikan rangsangan-rangsangan yang sampai kepadanya melalui alat inderanya, menjadikannya kemampuan itulah dimungkinkan individu mengenali milleu (lingkungan pergaulan) hidupnya

Persepsi sosial mengandung unsur subyektif. Persepsi sosial menyangkut atau berhubungan dengan adanya rangsangan-rangsangan sosial. Rangsangan-rangsangan sosial ini dapat mencakup banyak hal, dapat terdiri dari (a) orang atau orang-orang berikut ciri-ciri, kualitas, sikap dan perilakunya, (b) persitiwa-peristiwa sosial dalam pengertian peristiwa-peristiwa yang melibatkan orang-orang, secara langsung maupun tidak langsung, norma-norma, dan lain-lain (Istiqomah, dkk, 1988)

Pembentukan Persepsi

Davis O Sears (1994) mengoperasionalkan bagaimana kita membuat kesan pertama, prasangka apa yang mempengaruhi mereka, jenis informasi apa yang kita pakai untuk sampai pada kesan tersebut, dan bagaimana akuratnya kesan itu.

Dalam melakukan penilaian terhadap orang lain, menurut Brehm ada tiga pentunjuk tidak langsung yang sering kita gunakan yakni pribadi, situasi dan perilaku. Dengan petunjuk tersebut kita bisa melakukan penilaian terhadap orang lain dengan cepat hanya ketika melihat fisiknya. Dalam hal ini selain melihat fisik seseorang penilaian atau persepsi juga dapat terbentuk dengan cepat adalah ketika kita melihat sisi demografi yang ada pada diri orang lain seperti jenis kelamin, ras, etnik dan lain sebagainya.

Apa yang dipersepsikan seseorang terhadap perilaku orang lain antara manusia yang satu dengan lainnya sangatlah bersifat subyektif. Hasil penilaian yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya terhadap obyek yang sama sangat ditentukan oleh latar belakang kehidupan pribadi sang perseptor. Jika sang perseptor memiliki latar belakang sosial dan pengalaman dalam bertinteraksi sosial yang memadai, memiliki ilmu pengetahuan, sikap yang baik, pengharapan dan selalu berfikir positif tentunya manusia jenis ini akan memiliki kemampuan intelegensi dan kemampuan menghayati stimulasi yang diterinya dari obyek yang diterima dengan bijak ketimbang manusia yang hanya mengamati sang obyek dengan kacamata prasangka.

Dalam hal ini Istiqomah (1988) menyebutkan bahwa persepsi sosial dibangun atas tiga hal yang saling mempengaruhi yakni 1) variabel obyek-stimulus, 2) variabel latar atau suasana pengiring keberadaan obyek-stimulus, dan 3) variabel diri preseptor.. Dalam bahasa yang berbeda Orgod memerinci tentang konsep diferensial semantik yang menjelaskan tiga dimensi dasar yang terkait dengan persepsi, yakni evaluasi (baik-buruk), potensi (kuat-lemah), dan aktivitas (aktif- pasif). Menurutnya evaluasi merupakan dimensi utama yang mendasari persepsi, disamping potensi dan aktivitas (David O Sears, et. al, 1994).

Dalam sebuah perkuliahan saya membagikan gambar kepada masing-masing mahasiswa dan meminta mereka untuk menuliskan gambar apa yang mereka lihat. Ketika gambar-gambar tersebut saya minta kembali, dengan tersenyum saya mengamati tulisan tangan yang memberi penilaian yang berbeda-beda semua mahasiswa terhadap gambar yang sama. Inilah yang disebut persepsi. Louisser dan Poulos (1997) dalam Mugniesyah (2005) mengemukakan lima tipe jenis/bias yang mempengaruhi persepsi, dan dua diantaranya adalah stereotip dan harapan. Stereotip diartikan sebagai suatu proses penyederhanaan dan generalisasi perilaku individu-individu dari anggota kelompok tertentu (etnis, agama, suku bangsa, jenis kelamin, gender, pekerjaan, dan lain sebagainya). Stereotip digunakan pada saat kita sedang menilai seseorang, juga digunakan oleh individu dalam berkomunikasi dengan maksud untuk humor, perlakuan diskriminatif bahkan pelecehan, yang seluruhnya akan menghasilkan pengaruh negatif terhadap hubungan antar manusia (komunikasi interpersonal).

Faktor-faktor internal bukan saja mempengaruhi atensi sebagai salah satu aspek persepsi, tetapi juga mempengaruhi persepsi diri seseorang secara keseluruhan, terutama penafsiran atas suatu rangsangan. Dalam hal ini agama, ideologi, tingkat intelektual, tingkat ekonomi, pekerjaan dan cita rasa sebagai faktor-faktor internal yang jelas mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu realitas. Jika persepsi ini memegang peranan penting sebagai peletak dasar argumen atas tingkah laki kita terhadap realitas maka mulai dari sekarang untuk menciptakan kehidupan yang damai, apa tidak bijak jika kita lebih baik memahami orang lain daripada berharap agar orang lain memahami kita.

Dalam sebuah guyonan saya kerap menyampaikan “hanya dua orang yang mudah tersinggung yakni orang miskin dan orang bodoh”. Guyonan ini bagi saya penuh makna bahwa jangan sampai karena rendahnya pengetahuan kita akan satu masalah atau seseorang atau lingkungan membuat kita tersinggung dan salah paham. Sebab ketersinggungan dan salah paham kerap tercipta dari pikiran prasangka yang tentu berbuah perilaku yang negatif. Mengakhiri tulisan ini jika diminta memilih sebenarnya lebih baik “salah paham” daripada “pahamnya yang salah”.

Jumat, 06 Mei 2011

Bagaimana membangun kebiasaan menulis?


 


Penulis ternama seperti John Grisham, Stephen King, Helvy Tiana Rosa, Kahlil Gibran, J.K. Rowling, Hemingway, mereka semua merupakan pejuang keras dalam dunia penulisan. Ada juga NH. Dini, Emha Ainun Najib, Muji Sutrisno, Gatoet Wardianto, Jaya Suprana, Goenawan Mohamad, Chairil Anwar, Taufiq Ismail, Amir Hamzah, Toety Herati, Putu Wijaya, Mochtar Lubis, Y.B. Mangunwijaya, Danarto, A.A. Navis, Muhammad Fudoli, Leila S. Chudori, Arifin C. Noer, Muhammad Diponegoro, Andrea Hirata, Seno Gumira Ajidarma, Jazimah Al Muhyi, Gola Gong, Fahri Asiza, dan para anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Hongkong. Saya ingin menjadi penulis, khususnya wartawan, lalu yang menjadi pertanyaan yang muncul dalalm benak saya adalah bagaimana membangun kebiasaan menulis seperti penulis professional seperti mereka?
 
Kata Jonru, motivasi diibaratkan seperti bensin yang bisa menggerakkan kendaraan bermotor, sebut saja kendaraan itu adalah saya. Kemudian dia mengatakan ketika bensin itu sudah terbakar dalam mesin kendaraan (alias hati/ sanubari saya), kendala atau rintangan sebesar apa pun tak kan mampu meredamnya kecuali kehendak Tuhan, malahan bisa jadi kendala terbesar justru datang dari saya sendiri. Pertanyaannya apakah saya ingin bergerak maju, mundur, atau hanya diam duduk berdiri saja. Dengan kalimat lain, saya sendirilah yang tepat untuk mengatasinya seandainya hal itu menghampiri.
Seperti yang Jonru sebutkan bahwa ada enam kendala yang menghalang seorang penulis pemula seperti saya untuk berkembang. Kendala-kendala itu menurutnya tak ubahnya penyakit yang amat mematikan dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri darinya adalah mengobatinya. Saya berasumsi bahwa kendala-kendala yang disebutkan oleh Jonru adalah benar adanya yang sering dialami oleh kebanyakan penulis pemula seperti saya. Berikut enam kendala (penyakit internal) tersebut:
  • Takut ditolak (= takut gagal)
Saya tidak memungkiri apa yang disebutkan oleh Jonru bahwa segala jenis perjuangan manusia pasti punya dua resiko yang nyata: berhasil atau gagal. Tentu saja saya harus siap dengan segala kemungkinan terburuk atau gagal. Toh kata orang kegagalan bagaikan tonjolan-tonjolan di bukit karang terjal. Tanpa tonjolan itu para pendaki mustahil dapat mendaki sebuah gunung. Menurut Jonru bahwa tak ada penulis yang tiba-tiba menjadi terkenal. Pasti ada proses di balik setiap keberhasilan. Saya percaya bahwa pohon tidak tumbuh dan berbuah dalam tempo semalam. Saya yakin bahwa itu semua harus dimulai dari benih kemudian tumbuh, berbunga, dan pada akhirnya berbuah. Dan yang menjadi catatan penting untuk saya adalah bahwa dalam perjalanannya sang pohon tentunya melewati derasnya hujan, kerasnya suara petir dan teriknya matahari. Karena saya percaya hanya dengan seperti itulah pohon tersebut dapat lebih cepat berbuah, lebih tegar, dan kokoh serta kuat akarnya. Rintangan tadi, sebut saja itu adalah cobaan tidak hanya datang sehari atau sebulan, bisa jadi bertahun-tahun. Seandainya berbuah pun tidak serta merta semua buahnya yang tumbuh itu matang. Mungkin saja busuk sebagian, rusak dimakan tupai, ulat atau burung, dan lain sebagainya.
Saya sendiri, untuk saat ini masalahnya bukanlah saya takut gagal. Hanya saja saya belum pernah mencoba mengirimkan naskah saya ke media massa, makanya saya belum mengetahui dengan pasti apakah tulisan saya jelek, pas-pasan, atau lumayan cukup bagus hingga laik diterbitkan. Yang terpenting saat ini bagi saya adalah bagaimana saya mengatur waktu untuk terus membaca, belajar menulis dari nol, membaca, menulis dan mengedit tulisan saya sendiri, serta merendahkan hati untuk berguru pada orang lain.
  • Minder
Saya tidak minder saat ini. Tidak ada alasan bagi saya untuk minder, karena saya belum mengirim naskah satu pun ke media massa. Saya belum mengirim bukan berarti saya minder, tapi hal itu dikarenakan saya menyadari ilmu dan pengetahuan saya belum sampai mengirim artikel, opini, karangan khas (ulasan), resensi buku atau film, bahkan cerita pendek belum kesampaian hingga detik ini. Saya mengatakan demikian biar Jonru tidak bosan lagi mendengar kata minder. Selama sembilan minggu dari sekarang, saya hanya perlu intens belajar sendiri terlebih dahulu dari newsletter BelajarMenulis.com, setelah itu saya akan memulai mencari komunitas penulis untuk saya jadikan teman berbagi agar tulisan saya dapat dikomentari atau dikritik. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan buat minder untuk saya, bukan?
  • Membesar-besarkan masalah
Kedengarannya sangat lucu seandainya saya beralasan untuk tidak menulis setiap hari. Semuanya sudah lebih dari cukup difasilitasi oleh orang tua saya. Mulai dari komputer, macbook serta merta siap menemani siang dan malam untuk menulis. Saya pun baru menyadari alangkah bodohnya saya selama ini, seolah terbangun dari mimpi buruk. Tempat yang enak, nyaman, tenang, tidak terlalu banyak gangguan dari luar bahkan tidak sumpek atau tidak gerah. Artinya cukuplah memungkinkan tempat yang sekarang ini bagi saya untuk membaca serta menulis. Benarlah adanya pepatah yang mengatakan bahwa banyak jalan menuju Roma. Jadi, jangan pernah membesar-besarkan masalah yang tidak penting.
  • Dikritik lalu Mati
Sembilan minggu dari sekarang, setelah saya mampu menyelesaikan newsletter BelajarMenulis.com, saya siap dikritik tulisan atau naskah saya oleh siapa pun. Saya perlu seseorang atau sejumlah penulis atau wartawan untuk membedah, menganalisa tulisan saya, serta memberitahu saya tentang cara menulis yang jauh lebih baik.
  • Tidak Sabaran
Saya hanya perlu menunggu sembilan minggu dari sekarang, ketika semua newsletter BelajarMenulis.com telah saya baca semuanya. Kemudian setelah itu, saya siap untuk mencurahkan ide dan gagasan saya dalam bentuk artikel, opini, karangan khas (ulasan), resensei buku atau film dan cerita pendek bahkan novel. Tapi dengan catatan, ilmu dan pengetahuan harus ada dalam benak pikiran saya. Karena tanpa itu semua, mustahil untuk menulis satu atau dua kalimat bahkan lebih ke dalam tulisan. Adalah benar adanya bahwa tak ada kesuskesan yang diraih dalam satu atau dua hari. Semua butuh proses panjang. Semua kesuksesan pasti perlu proses. Saya harus bersabar menunggu masa-masa keemasan itu datang menghampiri saya. Saya percaya bahwa saya bisa menjadi wartawan suatu hari nanti.
  • Malas Berusaha
Menurut Jonru bahwa kesuksesan tak akan pernah menghampiri seorang pemalas. Kalau mau berhasil, ya harus rajin. Saya setuju dengan hal itu. Tanpa ketekunan, kerja keras, tidak mudah putus asa, dan disiplin yang tinggilah kesuksesan akan menghampiri saya. Mengambil kata-kata Helvy Tiana Rosa, Jonru mengutip bahwa tips jitu untuk menjadi seorang penulis adalah langsung praktek menulis, menulis, dan menulis. Setiap hari cobalah untuk menulis. Saya kira ada benarnya juga, saya bisa menulis apa saja sebagai latihan. Disamping itu, membaca karakter media massa, sangat penting juga, lalu membedahnya serta menganalisanya. Saya percaya dan yakin, suatu hari nanti saya akan menemukan gaya dan ciri khas saya sendiri. Amin.
Terimakasih Jonru, BelajarMenulis.com atas newsletter Seputar Motivasinya. Wish you all the best.

16 komentar:

Motifnya macam-macam. Ada yang beranggapan, menjadi wartawan itu keren, bergengsi, dapat masuk ke mana-mana, bisa ketemu dengan pejabat atau artis untuk wawancara, dan sebagainya. Persepsi seperti itu sesungguhnya salah, bahkan menyesatkan. Profesi wartawan bukan untuk ”gagah-gagahan”. Profesi ini sangat jauh dari persepsi yang sepele seperti itu. Dunia pers, dengan demikian juga wartawan, adalah kepanjangan tangan publik, penyambung lidah rakyat, terutama rakyat yang tertindas, the silence majority. Bahkan dalam negara yang demokratis, pers merupakan the fourth estate (pilar ke empat) dari sistem demokrasi, di samping eksekutif, legislatif, yudikatif. Luar biasa, bukan?

http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22
Untuk dapat menjalani profesi wartawan yang benar, serius, sungguh-sungguh, Anda harus memenuhi tiga hal. Bolehlah kita sebut sebagai ”trilogi jurnalisme”. Pertama, Anda harus profesional. Bukan hanya wartawan, semua profesi, jabatan, pekerjaan, sesungguhnya harus dikerjakan secara profesional. Wartawan yang profesional ialah yang memahami tugasnya, yang memiliki skill (ketrampilan), seperti melakukan reportase, wawancara, dan menulis berita atau feature yang bagus dan akurat, dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika Anda tidak mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa disebut tidak profesional.

http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22/BAGAIMANA_MENJADI_WARTAWAN_PROFESIONAL
Tapi, profesional saja tidaklah cukup. Anda mesti mengenal apa yang disebut ”integritas,” kejujuran, dalam pengertian bahwa sebagai wartawan Anda mesti jujur (dan paham) terhadap profesi, menyadari jatidiri Anda sebagai kepanjangan tangan dari aspirasi publik, kepada siapa Anda semestinya bertanggungjawab secara moral. Profesional dan punya integritas belum lengkap jika Anda tidak memiliki sikap independen, sebagai bagian yang integral dari ”trilogi jurnalisme,” yaitu profesional, integritas dan independen, tidak berpihak, obyektif, dan hanya berpihak atau bertanggung jawab kepada publik.

http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22/BAGAIMANA_MENJADI_WARTAWAN_PROFESIONAL
Karena bertanggung jawab kepada publik, dan oleh karena itu harus independen, maka jadilah pers – dan dengan demikian juga wartawan – merupakan the fourth estate (pilar ke empat) dalam negara yang menganut sistem demokrasi -- di samping eksekutif, legislatif dan yudikatif. Jika pilar demokrasi ciptaan Jean Jacques Rousseau yang disebut ”trias politica” itu saling mengontrol satu sama lain, sehingga terjadi check and balance, maka pers sebagai pilar ke empat berperan sebagai ”anjing penjaga” (watch dog) agar check and balance dalam sistem demokrasi itu berjalan dengan semestinya.


http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22/BAGAIMANA_MENJADI_WARTAWAN_PROFESIONAL
Dalam konteks Indonesia, Anda harus memahami UU Nomor 40/1999 tentang Pers yang melindungi tugas wartawan sebagai profesi dan menjamin kebebasan pers. Namun harap diingat, dan jangan salah paham, bahwa kebebasan pers sesungguhnya bukanlah semata-mata merupakan kepentingan pers. Sebab, kebebasan pers (freedom of the press atau press freedom) merupakan konsekwensi logis dari sistem demokrasi, ketika pers menjadi watch dog dalam rangka perannya sebagai the fourth estate.



Pengertian ”kebebasan pers” tentu saja bukanlah bebas sebebas-bebasnya, menulis semau gue, tak peduli pada aturan apapun, melainkan bebas dalam mengakses informasi yang dibutuhkan oleh publik. Sebab, pers sebagai ”pilar ke empat” dalam sistem demokrasi -- yang adalah juga ”kepanjangan tangan” dari aspirasi publik -- harus bebas dalam mengakses informasi publik. Mengapa? Sebab, kebebasan itu merupakan salah satu dari hak-hak sipil (hak untuk bebas berpikir, berpendapat, berbicara, menulis, berserikat, beragama, mencari nafkah) yang semuanya merupakan hak-hak manusia yang paling asasi.

http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22/BAGAIMANA_MENJADI_WARTAWAN_PROFESIONAL
Dengan mengemban hak untuk mengakses informasi publik secara bebas, dan dengan demikian sebagai ”kepanjangan tangan publik” atau ”penyambung lidah rakyat”, maka pers berkewajiban memperjuangkan hak-hak sipil, terutama the silence majority. Dengan melaksanakan tugas profesional sebagai social control, pers dapat menjaga agar kekuasaan tetap berjalan di jalur rel demokrasi, tidak terjebak pada penyalah gunaan kekuasaan. Sebab, sebagaimana ungkapan sejarawan Inggris Lord Acton (1834-1902), ”the power tends to corrupt; the absolute power tends to absolute corrupt” (kekuasaan cenderung menyalah gunakan kekuasaan; kekuasaan yang mutlak cenderung menyalah gunakan kekuasaan secara mutlak pula).

http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22/BAGAIMANA_MENJADI_WARTAWAN_PROFESIONAL
Oleh karena itu, pers harus bebas namun bertanggung jawab (kepada publik, kepada norma hukum, kepada common sense, bukan kepada kekuasaan). Namun, di lain pihak pers bukanlah can do no wrong (bukan tidak bisa salah). Sebab, jika pers can do no wong, bukan tak mungkin akan terjadi trial by the press (pengadilan sepihak oleh pers), bahkan tirani pers. Dalam kaitan ini, sangatlah benar sikap Thomas Jefferson, Presiden ke III Amerika Serikat (1743-1826): “Andai saya diminta memilih antara pemerintah tanpa pers atau pers tanpa pemerintah, maka tanpa ragu sedikit pun saya akan memilih yang kedua.” Padahal, selama memerintah dia sering diperlakukan kurang baik oleh pers AS.

http://budimanshartoyo.multiply.com/journal/item/22/BAGAIMANA_MENJADI_WARTAWAN_PROFESIONAL
Adanya keyakinan kuat, akan memberi kekuatan yang tak terhingga. Contoh nyata ada pada sosok Rohan Murphy yang cacat kakinya dalam video dengan alamat url http://www.andriewongso.com/artikel/aw_inspirational_video/1969/Kekuatan_Keyakinan/

Tak punya kaki lengkap bukan menjadi halangan bagi Rohan untuk berprestasi. Atlet gulat berkulit hitam ini membuktikan, keyakinan kuatnya mampu mengatasi kelemahan dirinya. Bahkan, tak jarang ia mengalahkan gulat orang yang bertubuh lengkap. Sungguh luar biasa!!!

Tonton videonya di alamat url http://www.andriewongso.com/artikel/aw_inspirational_video/1969/Kekuatan_Keyakinan/
Menulis, Menulis, Menulis

AWALI setiap pagimu dengan menulis, itu akan membuatmu jadi seorang penulis. Begitulah ungkapan dari Gerald Brenan.
Kata-kata “awali setiap pagimu dengan menulis”, merupakan ungkapan yang penting dan patut dicamkan oleh siapa pun, termasuk saya. Tentu, ada pertanyaan yang muncul: mengapa harus setiap pagi kita menulis? Dan mengapa harus pagi hari waktunya?



Baca selengkapnya di alamat url http://writingsdy.wordpress.com/2007/05/13/menulis-menulis-menulis/
Tips-tips dasar yang bisa anda coba terapkan untuk memulai menulis:
1. waktu yang menyegarkan; adalah waktu-waktu segar adalah sehabis shalat subuh. Anda cukup meluangkan waktu 15-30 menit, di waktu inilah kita bisa menulis lebih cepat dari waktu yang lain.
Cobalah untuk memakai waktu ini sebagai waktu pamungkas untuk berlatih menulis. Selain subuh anda bisa cobah waktu sehabis tidur siang, atau sehabis shalat isya. Atau waktu-waktu kesukaan anda.
2. tempat favorit; pilihlah tempat yang bisa membuat ide kepenulisan anda mengalir lebih deras.
3. segarkan pikiran; Menulis memerlukan pikiran yang segar, sehingga dapat berfikir dan mengeluarkan ide-ide segar.
Jika anda lagi gelisah, cobalah untuk mendengarkan musik-musik yang menenangkan. Setelah pikiran segar tenaga baru akan datang untuk memulai menulis.
4. buat pengingat; Sebuah alarm, atau sebuah tulisan yang tertempel di dinding untuk menulis. Ataukan meminta teman untuk mengingatkan menulis. Dan banyak lainnya.

Baca selengkapnya di http://menulis-t-aft.blogspot.com/2009/08/tips-dasar-untuk-memulai-menulis.html
Tips Menulis bisa dibaca pada alamat http://menulis-t-aft.blogspot.com/
Kumpulan Tips, Motivasi, Cara dan Bimbangan Belajar Menulis.
Berikut ini dikemukakan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh setiap penulis pemula:
1. Mempelajari misi majalah;
2. Menyiapkan tulisan dengan ide yang berbeda-beda;
3. Tempat menulis;
Selengkapnya baca http://www.menjadicerdas.co.cc/index.php?option=com_content&task=view&id=7&Itemid=2
Baca selengkapnya http://pelitaku.sabda.org/bagaimana_dan_mengapa_memulai_kelompok_menulis
Langkah-Langkah untuk Membentuk Kelompok Menulis;
1. Perencanaan
2. Iklan
3. Wawancara
4. Pertemuan pertama
5. Mengelola Kelompok
6. Terakhir, pastikan Anda tetap mempertahankan pertemuan Anda terus fokus pada hal yang penting: kelompok.
Memulai menulis;
SEKARANG INI JUGA
Baca artikel di alamat url http://www.republika.co.id/berita/trendtek/aplikasi/10/03/22/107503-sulit-memulai-menulis-coba-creawriter

Ada aplikasi, CreaWriter namanya.

http://www.republika.co.id/berita/trendtek/aplikasi/10/03/22/107503-sulit-memulai-menulis-coba-creawriter

“Profesi Jurnalis dan Garis Kematian”

Oleh Dede Mulkan

Kandidat doktor Komunikasi Unpad, dosen FIKKOM UNPAD
Posted on April 16, 2007 by jurnalistikuinsgd

“Beda antara hidup dan mati sangat tipis”. Demikian pernah diungkapkan reporter Metro TV, Meutya Hafid, yang sempat disandera selama tujuh hari oleh kelompok Mujahidin di Irak bersama kameramen Budyanto, pertengahan Februari 2005. Peristiwa tersebut begitu mencuat ke permukaan dan kini menjadi catatan penting dan relevan untuk diungkap kembali, berkaitan dengan peristiwa tragis yang menimpa kameramen Lativi dan SCTV, yang tewas saat meliput bencana KM Levina I.
Mengapa masalah keselamatan seorang jurnalis (wartawan, kameramen atau reporter) ketika meliput sebuah peristiwa, harus menjadi catatan penting yang ada di saku setiap jurnalis. Ini tiada lain karena, profesi di bidang jurnalistik sangat dekat dengan “garis kematian” (deadline). Bagi saya istilah deadline itu sendiri tidak hanya mengacu kepada ”tenggat waktu” yang harus dipatuhi oleh setiap jurnalis, ketika ia meliput sebuah peristiwa dan harus segera menulis (melaporkannya) kepada khalayak. Namun lebih dari itu, deadline bisa juga berarti ”baris kematian” dalam arti yang sesungguhnya. Sebab jika tidak hati-hati, profesi ini sangat dekat dan tipis sekali batasnya dengan kematian.
”Gambar akan berbicara seribu bahasa”, demikian ungkapan yang telah menjadi kamus bagi para kameramen televisi. Karena memiliki kelebihan audio-visual itulah, maka para kameramen seakan berlomba-berlomba untuk menghasilkan gambar-gambar yang original dan eksklusif bagi stasiun televisinya. Tantangan dan bahaya di depan mata kadang tak dihiraukannya, demi dihasilkan gambar-gambar yang akan berbicara kepada pera pemirsa. Bila perlu segala hambatan dan rintangan yang mungkin akan menghalangi proses pengambilan gambar, akan ”diterjangnya” oleh para kameramen.
Termasuk dalam kasus kecelakaan Levina I tempo hari. Sebab menurut keterangan Wakapolri, yang berhak masuk ke Tempat Kejadian Perkara (TKP), hanyalah petugas kepolisian dan mereka yang telah ditunjuk resmi. Untuk itulah biasanya TKP akan dibatasi oleh garis kuning. Namun apa yang terjadi dalam kasus Levina I, ternyata wartawan beramai-ramai memasuki daerah TKP.
Wartawan Korban Konflik
Kasus tewasnya jurnalis di saat mereka menjalankan tugas kewartawanan memang menjadi catatan penting bagi berbagai pihak, terutama pemerintah. Sebab dari kasus-kasus yang terjadi itu, tidak jarang justru pemerintah dianggap teledor dalam melindungi profesi wartawan yang sangat mulia itu. Walaupun mungkin saja kasus tewasnya seorang wartawan itu lebih disebabkan karena tidak dipatuhinya aturan dan prosedur yang telah ditetapkan pihak-pihak berwenang.
Beberapa kasus yang pernah terjadi, membuktikan kebenaran akan hal itu. Tahun 2003, Reporter Ersa Siregar tewas dalam baku tembak antara TNI dengan GAM di wilayah Peureulak NAD. Masih di tahun yang sama, seorang Kameramen Indosiar Arie Wailan Orah juga tewas dalam sebuah kecelakaan, saat meliput peristiwa di daerah yang sama. Kemudian setahun yang lalu, lima Kru TV7 Hilang di Papua, ketika meliput Program Jejak Petualang di laut Arafuru.
Menurut pernyataan organisasi pengawas kemerdekaan pers, Reporters Sans Frontieres, tahun 2005, merupakan tahun paling mengerikan bagi Wartawan. Lebih dari 60 wartawan terbunuh dan 1.300 lainnya diserang atau diancam secara fisik. Pada tahun sebelumnya, 53 wartawan dan 15 koresponden tewas. Irak merupakan negara paling mematikan bagi media untuk tiga tahun berturut-turut, Irak juga menjadi \”neraka\” bagi kalangan jurnalis. Sepanjang tahun ini, 32 wartawan terbunuh di negeri itu. Total sudah 92 wartawan tewas di Irak sejak invasi. Belum lagi 37 pembantu wartawan seperti penerjemah, sopir, staf kantor dan lain-lain juga ikut terbunuh.
Laporan lain yang dikeluarkan Institut Pers Internasional (IPI) bermarkas di Wina mengatakan, 40 wartawan tewas di seluruh dunia pada tahun ini. Sebagian besar mereka tewas saat menyelidiki korupsi dan perdagangan obat bius. IPI mengatakan, Irak tahun ini sekali lagi menjadi negara yang paling berbahaya di dunia untuk bekerja sebagai wartawan.
Gloria Castro, seorang jurnalis yang kini memimpin Media for Peace, berperan penting dalam mendidik para wartawan di Kolombia untuk mampu melakukan liputan secara profesional dalam situasi konflik melalui pelatihan-pelatihan rutin yang dilakukannya. Bersama lembaga lainnya, Foundation for Freedom of Expression, organisasi Media for Peace juga membantu melindungi wartawan yang mendapatkan ancaman atas aktivitas jurnalismenya.
Bagaimana Melindungi Jurnalis ?
Wartawan, Reporter atau Kameramen bakal kelabakan dan bisa terbunuh secara sia-sia jika meliput perang, tapi tidak dibekali pengetahun jurnalistik dan perencanaan memadai. Begitu juga ketika para kameramen itu “memaksa” untuk mengabadikan sebuah momen penting dan menarik, tapi dia tidak mengetahui prosedur baku yang harus dijalaninya.
Prosedur dan aturan baku, sebenarnya bukan tidak pernah diberitahukan kepada para jurnalis yang akan meliput di daerah penuh resiko. Seperti melalui penjelasan di langsung di lapangan oleh petugas dan melalui pelatihan-pelatihan rutin yang diadakan oleh lembaga-lembaga terkait. Misalnya Pelatihan Keselamatan Jurnalis (Safety Journalists) yang diadakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan International Federation of Journalists (IFJ) kepada para kameramen/reporter televisi swasta nasional dan lokal serta wartawan media cetak.
Para instruktutur pun merupakan orang yang sudah berpengalaman di daerah konflik nyata, yang berbagi pengalaman dengan para peserta pelatihan. Dalam waktu singkat, wartawan harus siap jika ditugaskan meliput perang, konflik dan kerusuhan. Wartawan harus punya persiapan matang jika ditugaskan ke daerah konflik. Agar tidak kelabakan jika menghadapi para korban, wartawan harus punya perencanaan yang matang sebelum berangkat karena memasuki daerah beresiko tinggi. Wartawan harus mengenali daerah tujuan liputan, buat daftar kelengkapan administrasi keberangkatan secara lengkap, seperti Kartu Pers, KTP, Pasport, Visa dan lain-lain. Begitu juga dengan alat P3K dan alat komunikasi harus lebih dari satu.
Wartawan pun mesti punya strategis atau keputusan yang tepat jika menghadapi situasi yang sulit untuk dilakukan. Sayang, apabila banyak jurnalis saat ini tidak punya pengetahuan tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan di daerah konflik ketika ada masalah yang terjadi pada dirinya, seperti di sandera atau ketika ia melihat korban tertembak. Apa yang harus dilakukan oleh seorang wartawan/reporter/kameramen dalam situasi seperti itu.
Menurut hasil penelitian AJI, selama ini banyak media di Indonesia memberangkatkan wartawannya untuk bertugas ke garis depan peliputan berbahaya seperti kerusuhan massal, bencana, perang dan lainnya hanya dengan pengarahan singkat dan pembekalan seadanya.
Terutama, pembekalan mental dan pengetahuan bertahan hidup (survival) yang sangat minim. Padahal dalam liputan berbahaya semacam itu, media maupun wartawan sudah harus menghitung semua resiko dan memastikan bahwa wartawan tersebut bisa pulang dengan berita eksklusif dan tetap hidup.
Materi dalam pelatihan semacam ini biasanya juga berisi tentang bagaimana membuat perencanaan peliputan lapangan yang baik, memahami situasi di lapangan dan bersiaga terhadap kemungkinan terburuk, latihan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), CPR, menangani patah/retak tulang, pendarahan dan luka bakar. Selain itu, bagaimana menurunkan resiko dalam peliputan dengan meningkatkan keamanan pribadi dan lokasi, ladang ranjau dan perangkap, kekacauan, stress pascatrauma dan penanganannya, bertahan dalam kerusuhan massa, dll.
Hikmah dibalik kasus tewasnya kameramen Lativi saat meliput peristiwa musibah Levina I, tentu menjadi sebuah pelajaran berharga dan teramat penting untuk dijadikan bekal pengalaman melangkah ke depan.
Betul, bahwa pemirsa ingin sekali menyaksikan gambar-gambar ”hidup” yang menceritakan sebuah peristiwa apa adanya. Betul, bahwa pemirsa ingin mendapatkan gambar-gambar eksklusif yang berisi kisah-kisah tentang perjalanan umat manusia yang tidak pernah disaksikannya. Tapi jangan lupa, bahwa pemirsa televisi jauh lebih mengaharapkan lagi, jika gambar-gambar itu juga dapat disaksikan bersama oleh si pembuat gambarnya.
Jadi, berhati-hatilah ketika merekam sebuah peristiwa, karena Sang Kameramen masih akan terus ditunggu dan ditunggu lagi hasil gambar-gambar eksklusif berikutnya. Selamat jalan kameramen televisi, Sang Jurnalis sejati…….. ****
————————–
(Dede Mulkan, Dosen di Jurusan Ilmu Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi - Unpad)
Keterangan Pengirim Artikel:Nama: dede mulkan,E-mail:
dekans@rad.net.id
Nama Institusi: fikom, Alamat Institusi: jatinangor
Prev: Kebiasaan Membaca Anak, Ada Dimana & Mau Kemana?

Menjadi Photo Jurnalis

PEWARTA FOTO | Fotojurnalistik belakangan menjadi trend di kalangan sejumlah fotografer. Meski sebagian fotografer menganggap bahwa kerja foto jurnalis adalah kerja gila. Namun sebenarnya menjadi foto jurnalis (wartawan foto) sangatlah mengasyikan.
Pekerjaan ini sangat cocok bagi seseorang yang memiliki jiwa petualang. Kerja seorang wartawan foto secara umum tidak monoton, setiap hari selalu memiliki pengalaman baru. Selalu bertemu dengan orang yang berbeda. Bahkan peristiwa yang dihadapipun selalu tidak sama. Dan setiap hari selalu menghadapi masalah yang berbeda pula.
Bagi se
Kerja wartawan foto maupun jurnalis umum tidak memiliki jam kerja yang jelas, karena tidak ditentukan oleh waktu yang mengikat. Pekerjaan bisa dilakukan, pagi, siang malam dst. Namun dalam melakukan tugas kesehariannya selalu dihadapkan pada masalah waktu yang mengikat, karena dikejar-kejar deadline.
Tugas seorang foto jurnalis, tidak hanya memotret belaka. Ada tiga pekerjaan pokok yang harus dilakukan oleh seorang foto jurnalis yaitu; 
Memotret, Menulis, Memilih danMenyimpan.
Memotret – Kerja utama seorang foto jurnalis adalah melakukan peliputan dengan kamera. Dengan kemampuan fotografinya diharapkan menghasilkan foto-foto yang menarik dan mampu menyampaikan informasi yang dibutuhkan pembaca. Memotretdari berbagai angle dan moment yang ada, sehingga banyak variasi foto yang dihasilkan.
Menulis – Foto jurnalis wajib menuliskan keterangan dan metadata ke dalam setiap foto-foto hasil kerjanya. Selain itu seorang foto jurnalis diharapkan juga mampu mendapatkan data-data dan menulis, menggantikan posisi seorang wartawan tulis, yang berhalangan hadir medan peliputan.
Memilih – Foto jurnalis juga berhak memilih foto-foto dengan mengusulkan berbagai macam angle untuk diajukan ke meja editor foto.
Menyimpan – Selain memotret seorang foto jurnalis juga memiliki tugas rutin untuk meriset foto-foto hasil kerjanya. Penyimpanan foto hasil kerja ini, biasanya dibantu oleh seorang periset foto yang bertugas.
Banyaknya tugas dan kerja yang terus berada dilapangan dengan berbagai macam medan yang berbeda menjadikan seorang foto jurnalis memiliki banyak pengalaman dan ketajaman dalam melihat berbagai macam persoalan. Sehingga tidak heran jika naluri seorang foto jurnalis sangat tajam, ketika membaca berbagai macam persoalan yang dihadapi.
Lapangan juga membuat seorang foto jurnalis memiliki insting yang kuat. Kekuatan instingnya ini, tidak jarang pula seorang foto juralis mampu mengantisipasi sebuah peristiwa yang tak terduga datangnya.
Kerja lapangan tidak hanya memberikan banyak pengalaman, namun memberikan banyak kreativitas dan kecepatan dalam menangkap mement yang mereka lihat. Dengan kreativitasnya itu, tak heran jika foto-foto yang dihasilkan memiliki kekuatan dan kedalaman.
Berikut beberapa tips-tips seorang pemula yang memulai karirnya di dunia fotojurnalistik:
Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang pemula untuk menjadi foto jurnalis (wartawan foto) di antaranya :
Kesiapan mental, menjadi faktor penting bagi seorang foto jurnalis. Mental perlu dipersiapkan secara matang agar tidak mengganggu dalam melakukan tugas-tugas peliputan nantinya. Selain itu seorang foto jurnalis juga harus, siap berada di segala medan, siap bekerja dengan ritme yang tinggi, tanpa jam kerja yang jelas, siap bekerja dibawah tekanan, karena dikejar-kejar deadline.
Selain itu perlu memperhatikan hal-hal yang menyangkut emosional dalam memotret :
1. Jangan grogi : Hilangkan perasaan malu, takut mendekati subyek, tidak yakin dengan apa yang diperbuat.
* Kebanyakan para pemula merasa ragu karena takut, segan saat medekat ke subyek foto, sehingga akan mempengaruhi hasil kerja.
2. Tariklah napas panjang jika perasaan nerves masih menghantui perasaan. Ketika telah berada di dekat subyek foto sadarlah bahwa Anda melakukan tugas sebagai pemotret bukan penonton. Posisikan diri Anda sebagai seorang foto jurnalis yang akan mengabadikan setiap gerakan subyek foto.
3. Jangan memotret asal jadi dan seadanya. Menuggulah momentum yang tepat saat menekan shutter (tombol) kamera. Bidiklah obyek agar tepat sasaran dan benar-benar telah masuk dalam bingkai pada rana kamera secara tepat. Lihatlah sisi kanan kiri atas bawah bahwa posisi obyek telah berada di posisi yang diinginkan.
4. Buatlah komposisi yang menarik, dengan menunggu moment yang tepat saat menekan shutter speed (timbol kamera). Untuk mendapatkan komposisi pilihlah tempat yang sesuai dengan gambar yang diinginkan. Dengan melakukan pemotretat dari angle atas angle bawah dan sisi depan sisi samping kiri maupun kanan. Letakan subyek yang difoto pada sisi bingkai pada foto yang tepat.
5. Buatlah foto sebanyak-banyaknya yang sesuai, sehingga mendapatkan angle yang diinginkan. Jagan hanya mengambil foto satu dua shot kemudian ditinggal pergi. Membuat foto dengan sudut pengambilan medium shot, longshot dan detail (dekat) menjadikan hasil kerja pemotretan Anda lebih bervariasi. Sehingga memberikan peluang editor foto, lebih leluasa dalam memilih foto.
Mendekatlah pada subyek foto untuk mendapatkan foto yang detail dan jelas.
6. Perhatikan kejadian-kejadian yang unik, menarik, aneh yang kemungkinan terjadi secara tiba-tiba disekitar Anda. Peristiwa seperti ini biasanya sangat menarik untuk dipotret misalnya, orang jatuh, orang tertidur, anak kecil nyelonong ke depan dsb. Sabarlah menunggu ekspresi atau gerakan obyek yang difoto sehingga menghasilkan gambar dengan ekspresi atau gerakan yang menarik saat difoto.
7. Taruhlah kamerka ditempat yang mudah diambil, dalam posisi siap jika dibutuhkan secara cepat. Kalau perlu kamera jangan sampai lepas dari tangan Anda. Sehingga bila ada kejadian yang datangnya tiba-tiba, tangan kita secara reflek akan dengan mudah mengabadikan kejadian itu.
8. Belajarlah dari kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Evaluasi langsung apa kekurangan dari foto-foto yang baru saja kita hasilkan.
orang pemula fotografi, rasanya disarankan untuk mencoba, menimba pengalaman sebagai foto jurnalis.
9. Catatlah (membuat caption atau teks foto) setiap kejadian yang terjadi ke dalam isian metadata yang telah tersedia.

DILEMA SEORANG JURNALIS

Saya beberapa kali sering ditanya, apa yang harus dilakukan seorang jurnalis, jika ia berhadapan dengan pilihan yang berkaitan dengan momen mati-hidup seseorang. Tetapi, di sisi lain, momen itu juga berpeluang mengangkat nama sang jurnalis untuk menjadi seorang “jurnalis besar.”

Saya ambil contoh yang ekstrem: Misalkan, Anda adalah seorang jurnalis. Suatu ketika, ada seseorang mau bunuh diri di depan Anda, dengan cara loncat dari gedung, sedangkan saat itu Anda sebagai jurnalis sedang memegang kamera yang sudah "on", siap mengambil gambar. Nah, dalam situasi itu, apa yang akan Anda lakukan?

Jawaban saya sederhana: Ada dua pilihan, masing-masing dengan konsekuensi tersendiri..

Pilihan pertama, Anda biarkan orang itu bunuh diri, dan Anda mendapat gambar eksklusif saat orang itu meloncat dari gedung, Berkat gambar luar biasa itu, Anda akan jadi jurnalis yang terkenal dan top deh, liputan Anda memecahkan rating tontonan, dan Anda akan merasa hebat dan bangga. Tapi, saat itu Anda mungkin tidak lagi layak menyebut diri "manusiawi."

Pilihan kedua: Anda berusaha menolong orang itu dan mencegahnya bunuh diri. Jika Anda memilih menolong orang itu dan batal mendapat gambar hebat, Anda mungkin tidak dipuji sebagai jurnalis pemecah rating. Anda tetap jadi jurnalis yang biasa-biasa saja seperti sebelumnya. Tetapi Anda patut bersyukur, Anda masih tetap layak disebut sebagai manusia, karena Anda menghargai kehidupan dan nyawa manusia lain di atas ketenaran dan sukses duniawi.

Saya tak hendak mengajari Anda tentang mana pilihan yang benar dan baik. Silahkan Anda pilih sendiri....

Jakarta, 13 Oktober 2009.. Oleh Satrio Arismunandar

Kamis, 05 Mei 2011

Dari Gus Dur

Ide dan pemikiran Gus Dur yang tajam dan cemerlang soal kebangsaan, khususnya tentang Bhinneka Tunggal Ika, telah memberikan peranan besar bagi perjalanan bangsa. Oleh karena itu, ide, gagasan dan pemikiran Gus Dur tentang kebangsaan dan persatuan harus dilanjutkan, demi kemajuan bangsa Indonesia.

Ulama, umaro dan pimpinan pesantren di sejumlah daerah di Indonesia menilai sosok Gus Dur sebagai inspirasi bagi ulama dan santri. Cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, itu dinilai telah mengajarkan pentingnya penghormatan atas perbedaan agama, suku, bangsa, dan nilai-nilai demokrasi.

Anggota Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, mengatakan bahwa keberlangsungan ide dan pemikiran yang ditinggalkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yaitu gigih memperjuangkan demokrasi dan pluralisme, menjadi tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Pemikiran Gus Dur yang tajam dan cemerlang soal kebangsaan, khususnya tentang Bhinneka Tunggal Ika, telah memberikan peranan besar bagi perjalanan bangsa. Praktik yang dilakukan Gus Dur mengenai sikap saling menghormati segala bentuk perbedaan demi tercapainya tatanan masyarakat yang demokratis harus diteladani. Konsep kebangsaan Gus Dur itu kini menghadapi banyak tantangan dan hambatan.

Pengasuh Pondok Pesantren Syalafiah As-Syafiiyah, Asembagus, Situbondo, KH Fawaid As’ad Samsul Arifin, mengatakan, saat ini yang perlu dilakukan sepeninggal Gus Dur adalah melawan bibit-bibit perpecahan bangsa. Munculnya gerakan fundamentalisme dan radikalisme agama yang membahayakan persatuan perlu terus diwaspadai. Generasi muda harus dibentengi dengan pemahaman tentang pemikiran Gus Dur agar terhindar dari aliran keagamaan yang merusak.

Pengasuh Pondok Pesantren Salaf Asrama Perguruan Islam Tegalrejo, Magelang, M Yusuf Chudlori, menilai Gus Dur adalah sumber motivasi dan inspirasi bagi pesantren. Gus Dur telah menebarkan nilai-nilai demokrasi kepada ulama dan santri. Gus Dur mampu membuka mata hati mereka tentang keterkaitan antara Islam, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Pengajar Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin, Rembang, Bisri Adib Hatani, menganggap Gus Dur sebagai sosok ideal negarawan produk pendidikan pesantren. Pemikiran Gus Dur mengajarkan sekaligus mencontohkan bagaimana ber-Islam dalam konteks keindonesiaan. Gus Dur memandang dan meyakini perbedaan adalah rahmat, sunnatullah (telah digariskan Allah). Perbedaan itulah yang membentuk warga Indonesia menjadi bangsa yang terhormat, mandiri, dan merdeka lahir batin.

Wakil Ketua Yayasan Buntet Pesantren, Cirebon, KH Wawan Arwani, mengungkapkan, salah satu nilai yang ditularkan Gus Dur adalah keterbukaan terhadap penganut agama atau kepercayaan lain. Cara hidup bersama di negara multikultural itulah yang juga disebarkan kepada santri Buntet Pesantren. Santri diajarkan untuk tidak menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan menegaskan terorisme yang mengatasnamakan jihad adalah haram.

Juru bicara Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Abdul Chobir, menilai pemikiran dan terobosan Gus Dur yang bisa menerima nilai-nilai baru dari sebuah perubahan akan tetap hidup dan dilanjutkan oleh warga NU. Gus Dur menekankan perbedaan bukan menjadi sumber perpecahan, tetapi justru menjadi modal persatuan.

Mengantarkan kepergian Gus Dur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, mendiang sebagai bapak pluralisme dan multikulturalisme di Indonesia. Gus Dur merupakan pejuang reformasi yang melembagakan penghormatan pada kemajemukan ide dan identitas. Gus Dur menyadarkan sekaligus melembagakan penghormatan kita pada kemajemukan ide dan identitas yang bersumber dari perbedaan agama, kepercayaan, etnik, dan kedaerahan. Disadari atau tidak oleh kita, sesungguhnya beliau adalah bapak pluralisme dan multikulturalisme di Indonesia. Almarhum Gus Dur, adalah salah satu pemimpin dan pemikir Islam yang sangat dihormati, baik di Indonesia maupun di dunia. Gus Dur meyakini Islam sebagai sumber universal bagi kemanusiaan, keselamatan, perdamaian, keadilan, dan toleransi. Gus Dur menetapkan berbagai kebijakan untuk mengakhiri diskriminasi dan untuk menegaskan bahwa negara memuliakan berbagai bentuk kemajemukan.

Mari kita teladani gaya kepemimpinan dan kehidupan Gus Dur, terutama upaya mempersatukan masyarakat Indonesia yang majemuk dalam kerangka NKRI. Selamat jalam Gus, semoga Tuhan YME menerima amal baik dan ibadahmu disisi-Nya. Amin

Minggu, 01 Mei 2011

Hati-hati-Dengan-Narkoba

Secara statistik, hingga saat ini pengguna narkoba didominasi oleh usia remaja, meskipun berbagai pihak telah berupaya keras untuk membendung masalah ini. Masalah remaja terkait dengan narkoba masih merupakan pr besar bagi pemerintah dan orang tua, padahal sekian banyak kerugian dan bahaya narkoba bagi kesehatan dan masa depan mereka telah berkali-kali didengungkan. Sebagian remaja yang terlanjur jatuh dalam narkoba percaya bahwa zat ini mampu membuat mereka berpikir lebih baik, aktif, dan populer di kalangan teman. Alih-alih memberi manfaat, narkoba justru menimbulkan banyak gangguan kesehatan. Kecanduan
Kecanduan hanyalah satu dari sekian banyak dampak buruk narkoba. Narkoba merupakan zat adiktif. Senyawa yang terkandung di dalamnya akan menstimulasi otak untuk meningkatkan produksi dopamine serta merusak syaraf-syaraf otak. Dengan demikian otak hanya akan merasa baik ketika narkoba masuk ke dalam tubuh, tetapi begitu efek ini hilang otak akan memberikan sinyal bahwa tubuh membutuhkan zat ini lagi secara terus-menerus sehingga remaja akan selalu ingin kembali menggunakannya.
Gangguan pada organ penting tubuh
Banyak remaja pengguna narkoba tertipu oleh salah satu efeknya , yaitu stimulan. Efek ini berupa peningkatan kinerja jantung, yang membuat seseorang merasa lebih bertenaga, gembira, dan aktif. Kondisi ini hanya sesaat, dan akan berbalik menjadi efek buruk yang menyeramkan. Karena jantung terpompa secara tidak normal maka besar peluang terjadi gangguan pada organ ini, yaitu aritmia, serangan jantung, dan stroke.
Secara medis dinyatakan bahwa penggunaan narkoba dalam bentuk suntikan dapat menjadi pemicu terjadinya gagal jantung. Khususnya pada narkoba jenis suntik yang berpeluang terjadinya infeksi mikroba pada pembuluh jantung, katup jantung, dan jaringan di sekitarnya. Kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya komplikasi gagal jantung. Di Amerika sejumlah 25% penderita infeksi pembuluh jantung adalah pengguna narkoba bentuk suntik. Penyakit ini ditandai dengan rasa sesak nafas di dada, demam, mual, muntah, dan penurunan berat badan.
Sementara pada otak, bahaya narkoba mempengaruhi kinerja otak sebagai pusat pengendali seluruh tubuh. Zat berbahaya ini masuk ke dalam otak sehingga merusak sel-sel serta pembuluh syaraf di dalamnya. Akibatnya terjadi penurunan kesadaran, luapan emosi tidak tabil, lemah dalam berpikir, perubahan perilaku, dan kematian sel lokal otak yang menyebabkan kelumpuhan. Kenikmatan yang sesaat tak sebanding dengan penderitaan yang berat dan panjang. Tak hanya itu, penggunaaan narkoba dalam jangka waktu tertentu bisa dipastikan akan mengalami gangguan di seluruh organ vital tubuh seperti kulit, paru-paru, ginjal, dan tulang.
Kerusakan mental
Di dalam otak terdapat syaraf-syaraf yang mengendalikan mental seseorang. Sementara narkoba yang telah menjangkau sistem otak akan berpengaruh besar terhadap mental remaja, seperti gangguan jiwa, depresi, dan kenakalan remaja. Secara statistik bertambahnya jumlah remaja pengguna narkoba sejalan dengan peningkatan masalah kenakalan remaja.
Remaja yang terlanjur menjadi pengguna narkoba akan terdorong untuk berusaha selalu memperoleh zat ini dengan cara apapun, termasuk dengan tindak kejahatan. Jika secara finansial pribadi remaja tak mampu lagi mencukupi kebutuhannya, maka ia akan berusaha dengan berbagai cara seperti mencuri. Di sisi lain, remaja putri yang menjadi pengguna narkoba juga tak sedikit yang malakukan kenakalan remaja seperti hamil pra nikah.
Ironisnya kondisi ini diikuti dengan tindakan aborsi, diperkirakan di Indonesia terjadi 700 ribu pelaku aborsi adalah remaja dan sejumlah besar terkait dengan narkoba. Jadi jika remaja tak mau terkena dampak bahaya narkoba, maka jangan sekali-kali mencobanya. Karena begitu jatuh, maka akan sulit untuk lepas. Jadi kalimat “say no to drugs!” seharusnya tak hanya sekedar slogan, tapi juga menjadi tekad kuat yang harus selalu dipegang oleh remaja.

Trik Menjauhkan Diri Dari Kenakalan Remaja

Berbagai macam bentuk kenakalan remaja yang terjadi dalam lingkungan remaja seperti tawuran, merokok,konsumsi narkoba atau minuman keras, seks bebas, dan lain sebagainya. Menurut penelitian, semakin tahun angka kenakalan remaja semakin meningkat, hal ini disebabkan oleh banyak hal seperti pengaruh pergaulan, depresi, kurang perhatian dan pengawasan dari orang tua, dan lain-lain. Akibat dari kenakalan antara lain kepribadian yang buruk, penurunan prestasi akademik, hingga bahaya narkoba bagi kesehatan dan mental. Sehingga kita sebagai kaum remaja alangkah sebaiknya mencegah dan menjauhkan diri dari segala bentuk kenakalan remaja.
Berikut merupakan trik untuk menjauhkan diri dari kenakalan remaja:
  1. Kenakalan remaja paling sering terjadi diakibatkan salah memilih pergaulan. Oleh sebab itu, sebaiknya kita pintar-pintar memilih lingkungan pergaulan. Misalnya dengan melihat latar belakang kepribadian teman kita atau memperoleh teman dari suatu kegiatan positif, seperti teman les musik atau teman kerja kelompok.
  2. Depresi karena masalah kita dengan orang tua atau kondisi lingkungan keluarga seperti perceraian, mudah menjerumuskan kita untuk berprilaku menyimpang sebagai pelampiasan. Maka sebaiknya mengisi waktu dengan segala kegiatan positif yang digemari, seperti latihan musik, melukis, atau membuat suatu penelitian, dan lain sebagainya.
  3. Tidak mengunjungi tempat-tempat dimana kenakalan remaja mendapat toleransi. Seperti bar, diskotik atau club malam. Sebab tempat-tempat tersebut memiliki kecenderungan mempengaruhi kita untuk merokok atau mengkonsumsi minuman keras, yang kemudian disusul oleh perlakuan menyimpang lainnya.
  4. Tingginya rasa gengsi dan ingin terlihat menonjol diantara teman-teman dengan maksud mencari perhatian, dapat menjadi penyebab melakukan kenakalan. Oleh sebab itu, lebih baik bergaul dengan teman dari golongan kelas ekonomi yang sepadan.
  5. Ketika menjumpai hal atau konflik yang sulit ditemukan solusinya, sebaiknya melakukan komunikasi dengan orang lain yang memiliki kompetensi untuk memecahkan permasalahan. Seperti orang tua, guru atau saudara, sehingga tidak mencari jawaban sendiri atau dari teman pergaulan yang belum pasti diketahui pola pemikirannya.
  6. Bila ingin melihat konser musik atau suatu pertunjukan, alangkah sebaiknya memilih acara yang rendah resiko perkelahian atau terdapat kelompok-kelompok pergaulan remaja nakal.

Rabu, 27 April 2011

FILSAFAT SOCRATES

A. Sekilas Tentang Filosofi Klasik 
Socrates
Perubahan jalan pikiran dalam filosofi tidak terjadi sekoyong-koyong. Hal tersebut timbul dengan adanya Filosofi Klasik Yunani. Aliran shopisme mulai mengubah pandangan filosofi dari ke cosmos ke manusia sebagai makhluk yang berpengetahuan.
Zaman klasik bermula daraaaaaaai Socrates tetapi Socrates belum sampai pada suatu sistem filosof yang memberikan nama klasik kepda filosofi itu. Ia baru membuka jalan. Socrates baru mencapai kebenaran ia belum sampai menegakkan suatu sistem pandangan tujuannya terbatas hingga mencari dasar yang baru dan kuat bagi kebenaran dan moral. Ajaran ini baru dibangun olh Plato dan Aristoteles.
B. Pemikiran Filsafat Socrates (Moh. Hatta)
Socrates lahir di Athena pada tahun 470 SM dan meninggal pada tahun 399 SM bapaknya tukang pembuat patung dan ibunya bidan. Pada permulaannya socraters mau menuruti jejak bapaknya tetapi ia berganti haluan dari membentuk batu menjadi patung menjadi membentuk watak manusia.
Masa hidupnya hamper sejalan dengan perkembangan sophisme di Athena. Pada hari tuanya Socrates melihat kota tumpah darahnya mulai mundur, setetlah mencapai puncak kebesaran yang gilang gemilang. Ia pandai bergaul dengan segala jenis umur dan ajaran filosofinya tak pernah ditulisnya, melainkan dilakukannya dengan perbuatan dengan cara hidup. Socrates seorang yang sederhana dfan tabiatnya berjalan disekeliling kota dengan alasan padang rumput dan pohon kayu tak memberi pelajaran apapun padaku, manusia ada”. Ia selalu bertanya dengan sungguh-sungguh kepada seseorang karena ingin tahu. Dengan jalan bertanya itu ia memaksa orang tempat bertanya supaya memperhatikan apa yang ia tahu dan hingga mana tahunya. Tujuan Socrates ialah mengajar orang mencari kebenaran yaitu kebenaran yaitu kebenaran yang berlaku untuk selamanya. Sikapnya itu adalah suatu reaksi terhadap ajaran sophisme yang merajalela diwaktu itu. Ia berkata yang ia ketahui Cuma satu yaitu bahwa ia tak tahu.
Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya, jika diperhatikan malahin ia tidak pernah mengajarkan filosofi melainkan hidup berfilosofinya. Bagi dia filosofi bukan isi, bukan hasil bukan ajaran yang berdasarkan dogma melainkan fungsi yang hidup. Disini berlainan pendapatnya dengan guru-guru sophis yang mengajarkan bahwa semuanya relatife dan subyektif dan harus dihadapi dengan pendirian ang skeptic, Socrates berpendapat bahwa kebenaran itu tetap dan harus dicari.
Dalam mencari kebenaran ia tidak memikir sendiri melainkan setiap kali ia berdua dengan orang lain dengan jalan tanya jawab dan metodenya disebut maieutik. Menguraikan seolah-olah menyerupai pekerjaan ibunya sebagai dukun beranak.
Socrates mencari pengertian yaitu bentuk yang tetap daripada sesuatunya sebab itu ia selalu bertanya: apa itu? Apa yang dikatakan berani apa yang disebut indah, apa yang bernama adil? Pertanyaan tentang “apa itu” harus lebih dahulu daripada “apa sebab”. Hal ini sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Anak kecilpun mulai bertanya dengan “apa itu”. Oleh Karena jawab tentang itu “apa itu” hrus dicari dengan Tanya jawab yang makin meningkat dan mendalam, maka Socrates diakui pula sejak keterangan Aristoteles sebagai pembangun dialektik pengetahuan.
C. Etik Socrates
Budi ialah tahu. Inilah intisari daripada etiknya. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Paham etiknya itu kelanjutan daripada metodenya. Induksi dan definisi menuju kepada pengetahuan yang berdasarkan pengertian dari mengerti beserta keinsyafan moril tidak boleh tidak mesti timbul budi. Oleh karena itu badi adalah tahu, maka siapa yang tahu akan kebaikan dengan sendirinya terpaksa berbuat baik.
Dari pandangan etik yang rasionil itu Socrates sampai kepada sikap hidup yang penuh dengan rasa keagamaan. Sering pula dikemukakannya bahwa Tuhan itudirasai sebagai suara dari dalam yang menjadi bimbingan bginy dalam segala perbuatannya. Itulah yan disebut daimonion dansemua orang yang mendengarkan suara daimonion itu dari dalam jiwanya apabila ia mau.
D. Murid-Murid Socrates
Diantara murid-murid Socrates ada tiga orang yang mengaku meneruskan pelajarannya yaitu Euklides, Antisthenes dan Arisrippos. Sungguhpun ketiga murid tersebut mendirikan sekolah Socrates sebagai tanda cintanya kepada gurunya. Murid Socrates yang sebenarnya ialah Plato.
E. Pemikiran Filsfat Socrates (K. Bertens)
Ajaran bahwa semua kebenaran itu relatif telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan mengguncangkan keyakinan agama. Inilah yang menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya Socrates harus bangkit ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran yang umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Sebagian kebenaran memang relatif tetapi tidak semuanya. Sayangnya Socrates tidak meninggalkan tulisan. Ajaran kita proleh dari tulisan-tulisan muridnya terutama plato, kehidupan Socrates (470-399 SM)berada ditengah-tengah keruntuhan imperium Athena. Tahun terakhir hidupnya sempat menyaksikan keruntuhan Athena oleh kehancuran orang-orang Oligarki dan orang-orang Demokratis.
Pemuda-pemuda Athena pada masa ini dipimpin oleh doktrin relatifisme dari kaum sophis sednkan Socrates adakah seorang penganut moral yang absolute dan meyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filosof, yng berdasarkan idea-idea rasional dan keahlian dalam pengetahuan.
Bertens (1975; 85-92) menjelaskan ajaran Socrates sebagai beikut ini. Ajaran ini ditujukan untuk menentang ajaran relatifisme sophis. Ia ingin menegakkan sains dengan agama. Socrates memulai filsafatnya dengan bertolak dari penglaman sehari-hari akan tetapi ada perbedaan yang sangat penting antara sophis dan Socrates; Socrates tidak menyetujui relafisme kaum sophis.
Menurut pendapat Socrates ada kebenaran obyektif yang tidak bergantung pada diri kita sendiri untuk membuktikan adanya kebenaran yang obyektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan dan menganalisis pendapat-pendapat. Metode yang digunakan Socrates biasanya disebut dialektika dari kata kerja Yunani dialegesthai yang berarti bercakap-cakap atau berdialog yang mempunyai peran penting didalamnya.
Didalam traktatnya tentang metafisika, Aristoteles memberikan catatan metode tentang Socrates ini. Ada dua penemuan keduanya berkenaan dengan dasar pengetahuan. Yang pertama ialah Socrates menemukan induksi dan yang kedua ia menemukan definisi. Dalm logikanya Aristoteles menggunakan istilah induksi tatkala pemikiran bertolak dari pengetahuan yang khusus lalu menyimpulkan yang umum itu dilakukan Socrates ia bertolak dari contoh-contoh konkrit dan dari situ ia menyimpulkan pengertian yang umum. Misalnya keutmaan (arĂȘte) dari usaha ini Socrates menemukan defines, penemuaanya yang erat dengan pertemuan pertama tadi, karena definisi ini diproleh dengan jalan mengadakan induksi itu.
Orang sophis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan kepada orang sophis bahwa pengetahuan umum itu ada yaitu definisi itu. Jadi orang sophis tidak seluruhnya benar yang benar ialah sebagian pengetahuan bersifat umum dan sebagian bersifat khusus itulah pengetahuan yang kebenaran relatif.
Dengan mengajukan definisi itu Socrates telah dapat menghentikan laju dominasi relatifisme kaum sophis. Jadi kita bukan hidup tanpa pegangan, kebenaran sains dan agama dapat dipegang bersama sebagianya dan diperselisihkan sebagiannya dan orang Athena mulai kembali memegang kaidah sains dan kaidah agama mereka.
Plato memperkokohkan tesis Socrates itu, ia mengatakan kebenaran umum itu memang ada. Ia bukan dicari dengan induksi seperti pada Socrates melainkan telah ada disana dialam idea. Kubu Socrates semakin kuat. Orang sophis semakin kehabisan pengikut. Ajaran bahwa kebenaran itu relatif semakin ditinggalkan Socrates dituduh merusak mental pemuda dan menolak tuhan-tuhan. Socrates diadili oleh hakim Athena. Disana ia mengatakan pembelaan panjang lebar yang ditulis oleh muridnya, Plato dibawah judul Aphologia (pembelaan). Dalam pembelaan itu ia menjelaskan ajaran-ajarannya, seolah-olah ia mengajari semua orang yang hadir dipengadilan it. Socrates dinyatakan bersalah ia dijatuhi hukukma mati.
Didalm dialog yang berjudul Phaidon, Plato menceritakan percakapan Socrates dengan para muridnya pada hari terakhir hidupnya. Sekalipun Socrates telah tiada ajarannya tersebar justru dengan cepat karena kematiannya itu. Orang mulai mempercayai adanya kebenaran umum.
Kesimpulan
Socrates seorang yang sederhana dan tabiatnya verjalan disekeliling kota, mempelajari tingkah laku manusia dari berbagai segi hidupnya. Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika diperhatikan malaha ia tidak mengajarkan filosofi melainkan hidup berfilosofi. Socrates mencari pengertian yaitu bentuk yang tetap daripada sesuatunya.
Bertens (1975; 85-92) menjelaskan ajaran Socrates sebagai beikut ini. Ajaran ini ditujukan untuk menentang ajaran relatifisme sophis. Ia ingin menegakkan sains dengan agama. Ada perbedaan yang sangat penting antara sophis dan Socrates; Socrates tidak menyetujui relatifisme kaum sophis. Orang sophis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya tidak ada pengetahuan yang bersifat umum.